Kartini dan Jalan Panjang Pembelajar Sepanjang Hayat

Holaaa, Yeni disiniii 👋

Selamat Hari Kartini yaaa 🌸

Kalau dengar kata Kartini, yang muncul di kepala biasanya pendidikan, perempuan, sekolah, buku, dan perjuangan melawan keterbatasan.

Gitu kaan?

Tapi rasanya makna pendidikan yang diwariskan Kartini itu sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar akses masuk sekolah. Bukan hanya soal perempuan boleh belajar, tapi juga soal perempuan berani terus belajar.

Bukan berhenti ketika lulus. Bukan selesai ketika punya gelar. Bukan merasa cukup ketika sudah "jadi seseorang".

Karena ternyata, menjadi manusia itu sendiri adalah proses belajar yang panjang. Dan menjadi perempuan, dalam banyak fase hidup, sering kali membuat proses belajar itu jadi lebih kaya… sekaligus lebih kompleks.

Kartini adalah seorang lifelong learner. Di balik tembok pingitan, tanpa akses ke universitas, tanpa internet (ya iyalah 😅), Kartini tetap belajar. Lewat buku, lewat surat, lewat refleksi. Dia tidak menunggu kondisi ideal untuk mulai belajar. Dia belajar dari kondisi yang ada.

Dan itu, menurutku, justru pelajaran paling dalam yang bisa kita ambil dari beliau.

Karena belajar — belajar yang sesungguhnya — bukan soal punya akses terbaik. Bukan soal gelar paling panjang. Bukan soal sekolah paling mahal. Tapi soal kesadaran bahwa kita tidak pernah selesai bertumbuh.

Nah, di Hari Kartini ini, izin 🫸menuliskan refleksi itu dalam satu tema: lifelong learning — pembelajaran sepanjang hayat. Aku coba melihatnya dari riset-riset terbaru, dari Ihya Ulumuddin yang sedang kubaca, dan dari cara Allah SWT mendidik hamba-Nya.

Siap? Yuk gas! 🚀


Menurutku, Belajar Itu Bukan Fase — Tapi Cara Hidup

Pada umumnya kita sering memahami belajar sebagai aktivitas yang sangat formal: pergi ke sekolah, duduk di kelas, baca buku, kerjakan tugas, ujian, lalu naik kelas.

Tapi ternyata, di perjalanan menuju 40 tahun hidup ini, aku merasa belajar memang nggak sesempit itu.

Belajar bisa terjadi saat kita gagal. Saat kita salah ambil keputusan. Saat kita jadi ibu. Saat kita jadi istri. Saat kita melebur dalam masyarakat. Saat kita kecewa. Saat kita kehilangan arah. Saat doa kita belum dijawab seperti yang kita mau. Saat Allah menunda sesuatu yang kita kira baik untuk kita.

Jadi rasanya, belajar bukan lagi sekadar kegiatan akademik. Belajar adalah cara hidup.

Ada istilah lifelong learning — belajar sepanjang hayat. Menurut Peter J Smith, Eugene Sadler-Smith (2006) dan Patrick Werquin (2010), belajar sepanjang hayat bukan sekadar menambah skill untuk kebutuhan kerja, tapi juga berkaitan dengan kemampuan adaptasi, daya lenting, kebermaknaan hidup, partisipasi sosial, bahkan kualitas hidup secara keseluruhan. Belajar bukan hanya membuat manusia lebih kompeten — tapi membantu manusia tetap hidup secara utuh di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.

Artinya, belajar itu bukan cuma supaya kita "nggak ketinggalan zaman". Lebih dalam dari itu, belajar adalah salah satu cara agar kita tetap bertumbuh sebagai manusia.


Kartini dan Keberanian untuk Terus Bertumbuh

Menurutku, kalau semangat Kartini dibaca ulang dalam konteks hari ini, maka salah satu bentuk paling relevannya adalah ini: perempuan yang tidak berhenti bertumbuh.

Karena tantangan perempuan hari ini juga tidak sederhana.

Perempuan belajar dalam banyak lapisan peran. Belajar memahami diri. Belajar membangun rumah tangga. Belajar menjadi ibu. Belajar meniti karier. Belajar menjaga akal tetap hidup, hati tetap hangat, dan iman tetap menyala. Belajar kuat tanpa kehilangan lembutnya. Belajar mandiri tanpa kehilangan empatinya. Belajar mengambil keputusan tanpa kehilangan adabnya.

Jadi menurutku, perempuan yang terus belajar itu bukan sekadar perempuan ambisius. Ia bisa jadi perempuan yang sedang menjaga dirinya agar tetap waras, tetap bijak, dan tetap punya arah.

Dan mungkin justru di sanalah Kartini hidup hari ini. Bukan hanya dalam simbol perjuangan masa lalu, tapi dalam diri perempuan-perempuan yang masih mau membaca, berpikir, mengevaluasi diri, memperbaiki langkah, dan tidak malu belajar lagi dari nol.

Dulu Kartini berjuang agar perempuan bisa sekolah — bukan untuk mengalahkan siapa pun, tapi untuk menjadi madrasah ula bagi generasi berikutnya.

Perempuan yang cerdas bukan ancaman. Ia adalah fondasi. 🕯️

Dan hak serta kewajiban belajar itu tidak mengenal gender.


Tahapan Belajar Manusia: Tidak Selalu Rapi, Tapi Selalu Bermakna

Kalau dipikir-pikir, proses belajar manusia itu sebenarnya punya tahapan. Walaupun dalam praktiknya, tahapan ini nggak selalu lurus dan rapi.

Sering kali kita maju sedikit, mundur sedikit, paham sebentar, lalu bingung lagi 😄 — maju mundur cantik cantik ala Syahrini yaa.

Tapi kurang lebih, menurutku proses belajar itu biasanya melewati fase-fase seperti ini:

1. Merasa perlu belajar

Semua dimulai dari kesadaran bahwa kita belum tahu semuanya. Karena orang yang merasa sudah cukup, biasanya justru berhenti tumbuh. Sebaliknya, orang yang masih punya kerendahan hati untuk mengakui "aku perlu belajar", masih punya ruang untuk dibentuk.

Dalam dunia pendidikan, kesadaran tentang batas pengetahuan diri sendiri ini justru dianggap fondasi paling penting dari kemampuan belajar seseorang — bahkan lebih kuat dari IQ atau akses sekalipun (Flavell, 1979).

2. Mau membuka diri

Membuka diri berarti siap dikoreksi, siap melihat kekurangan diri, siap menerima bahwa pemahaman kita sebelumnya mungkin belum utuh.

Carol Dweck (2007) menyebutnya growth mindset — keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang melalui usaha. Berbeda dengan fixed mindset yang menghindari tantangan karena takut terlihat tidak mampu. Perbedaannya bukan pada kecerdasan, tapi pada cara memandang diri sendiri dalam proses belajar.

3. Berproses

Barulah belajar betul-betul terjadi. Ada usaha, pengulangan, latihan, disiplin, rasa bosan, salah paham, dan trial and error.

Justru di fase ini banyak orang berhenti. Karena belajar itu tidak selalu terasa indah. Kadang capek, kadang bikin malu. Tapi riset menunjukkan bahwa keahlian sejati lahir bukan dari bakat, tapi dari latihan yang disengaja dan konsisten — bahkan ketika rasanya tidak nyaman (Ericsson, 1993). Justru ketidaknyamanan itu tanda kita sedang benar-benar belajar.

4. Ujian

Kita sering mengira sudah paham, sampai akhirnya hidup menguji. Dan dari situlah baru kelihatan: ilmu itu sudah turun jadi sikap, atau masih berhenti di kepala?

Kita merasa sudah sabar, sampai diuji dengan orang yang menyakiti. Kita merasa sudah tawakal, sampai rencana berantakan. Kita merasa sudah ikhlas, sampai sesuatu yang dicintai diambil.

Di titik ini, belajar tidak lagi teoritis. Ia menjadi sangat personal. Eschenbacher & Fleming (2020) menyebut momen ini sebagai disorienting dilemma — pengalaman yang mengguncang dan memaksa kita mempertanyakan asumsi-asumsi lama. Inilah pintu masuk menuju transformative learning — belajar yang tidak hanya menambah pengetahuan, tapi benar-benar mengubah cara kita memandang dunia.

Pernah punya pengalaman yang awalnya terasa menyakitkan, tapi belakangan kamu sadar itu justru yang paling mengubah hidupmu? Itu transformative learning sedang bekerja.

5. Refleksi

Setelah diuji, kalau Allah izinkan, biasanya kita mulai memahami pelajaran itu dengan cara yang lebih dalam. Bukan cuma tahu definisinya, tapi mengerti ruh-nya.

Kolb (1984) menempatkan refleksi sebagai fase krusial dalam siklus belajar. Tanpa refleksi, pengalaman hanya menjadi kejadian yang lewat. Dengan refleksi, pengalaman menjadi pelajaran. Dan siklus itu berputar terus — tidak ada titik "selesai".

Pernah nggak ngerasa "kok masalah yang sama datang lagi?" Mungkin itu siklus belajar yang belum tuntas di fase refleksi. 😅

6. Mengamalkan dan mewariskan

Puncak belajar bukan sekadar "aku paham". Tapi "aku menjalani", lalu kalau Allah izinkan, "aku bisa membagikan manfaatnya kepada orang lain".

Al-Ghazali sudah bilang ini jauh sebelum teori pendidikan modern lahir: ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Belajar yang sejati selalu bermuara pada perubahan — perubahan sikap, perubahan kebiasaan, perubahan cara kita hadir di dunia.

Di sinilah belajar menjadi benar-benar hidup.


Al-Ghazali Bicara Duluan: Ihya Ulumuddin Jilid 1, Bab Ilmu

Nah, sekarang kita mundur ke abad ke-11. Ke seorang ulama besar bernama Imam Al-Ghazali.

Di Ihya Ulumuddin Jilid 1, Bab Ilmu — yang ditulis sekitar tahun 1095 M — Al-Ghazali sudah membahas hal-hal yang baru "ditemukan" riset modern berabad-abad kemudian. Dan ini yang selalu bikin aku kagum.

Ilmu adalah kewajiban, bukan pilihan. Al-Ghazali membuka Bab Ilmu dengan sangat tegas, mengutip hadits:

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)

Beliau membagi ilmu menjadi Fardhu 'Ain — wajib dikuasai setiap individu — dan Fardhu Kifayah — wajib ada di masyarakat, termasuk kedokteran, matematika, dan teknik. Artinya, seorang peneliti yang menggali ilmu komputer dengan niat yang lurus pun sedang menjalankan perintah agama. Perspektif yang membebaskan, sekaligus menambah beban tanggung jawab. 😄

Ilmu bukan sekadar informasi — ia seharusnya menjadi cahaya. Kita hidup di zaman yang informasinya berlimpah, tapi tidak semua informasi menjadi ilmu. Dan tidak semua orang berilmu otomatis mendapatkan hikmah. Ada jarak antara tahu dan paham. Ada jarak antara paham dan mengamalkan. Dan ada jarak yang lebih jauh lagi antara mengamalkan dan menjadi bijak.

Adab sebelum ilmu. Al-Ghazali sangat menekankan ini — niat yang bersih, memuliakan ilmu dan guru, sabar dalam proses, dan mengamalkan apa yang dipelajari. Karena ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong.

Ada satu kalimat beliau yang menurutku sangat powerful:

"Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia."

Riset modern tentang transformative learning baru bilang ini di abad ke-20. Al-Ghazali sudah bilang di abad ke-11. 🤯

Takhalli, Tahalli, Tajalli. Ini tahapan belajar ala Al-Ghazali yang paling membedakan perspektif beliau dari teori pendidikan modern manapun:

  • Takhalli — kosongkan hati dari sifat buruk yang menghalangi ilmu masuk: sombong, iri, cinta dunia berlebihan.
  • Tahalli — isi hati dengan akhlak mulia dan niat yang benar.
  • Tajalli — ilmu mulai bersinar, menghasilkan hikmah yang meresap ke dalam cara hidup.

Ini bukan teori kognitif biasa. Ini teori belajar yang melibatkan dimensi spiritual — bahwa hati adalah organ belajar yang paling penting, bukan hanya otak.

Saat hati sedang penuh ego, penuh amarah, penuh kecemasan — belajar apapun rasanya tidak masuk. Tapi saat hati tenang, lapang, dan ikhlas — sesuatu yang sederhana pun bisa jadi pelajaran yang sangat dalam. Kita semua pernah merasakannya, kan?


Cara Allah Mendidik Hamba-Nya: Tarbiyah Ilahiyah

Ini bagian yang paling aku suka untuk ditulis.

Karena kalau kita bicara lifelong learning dari perspektif iman, maka pertanyaan yang paling fundamental adalah: siapa sebenarnya guru terbesar kita?

Jawabannya: Allah.

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut diri-Nya Ar-Rabb — bukan sekadar "Tuhan", tapi Yang Memelihara, Yang Mendidik, Yang Menumbuhkan. Kata Rabb berasal dari akar kata yang sama dengan tarbiyah — pendidikan. Artinya, mendidik adalah salah satu sifat Allah yang paling mendasar. Dan kita, sebagai hamba-Nya, adalah murid yang tidak pernah benar-benar lulus dari sekolah-Nya.

Allah mendidik kita dengan cara yang tidak selalu nyaman. Tapi justru di situlah sering kali kasih sayang-Nya bekerja.

Bertahap (Tadarruj). Al-Qur'an tidak turun sekaligus — turun selama 23 tahun, sedikit demi sedikit. Ini metode pedagogis yang disengaja. Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri karena merasa belum berubah. Tapi bahkan Al-Qur'an pun diturunkan bertahap — itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kebijaksanaan.

Melalui pengalaman langsung. Allah mendidik Nabi Ibrahim bukan hanya dengan wahyu, tapi dengan pengalaman nyata — dilempar ke api, diperintah menyembelih putranya, membangun Ka'bah. Allah mendidik Nabi Musa melalui pelarian dan perjuangan. Bukan dari ruang kelas yang nyaman. Belajar yang paling dalam memang lahir dari pengalaman nyata — dan Allah sudah mengajarkan ini jauh sebelum teori pendidikan modern lahir.

Melalui penundaan. Kita minta sekarang, Allah kasih nanti. Supaya kita belajar sabar, belajar niat, belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Di balik penundaan itu, sering kali ada persiapan yang sedang Allah lakukan — mempersiapkan kita agar benar-benar siap.

Melalui ujian yang dirancang khusus.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu… Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Ujian bukan hukuman. Ujian adalah kurikulum yang dirancang khusus, sesuai kapasitas kita. Setiap ujian yang datang adalah bukti bahwa Allah percaya kita mampu melewatinya.

Melalui jeda dan keheningan. Ada momen yang sering luput: masa fatrah — jeda wahyu dalam kehidupan Nabi ï·º. Setelah wahyu pertama, ada periode di mana wahyu berhenti. Para ulama menafsirkan ini sebagai momen Allah mendidik Nabi untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa. Dalam proses belajar kita, masa stagnan bukan selalu kemunduran — mungkin itu fase inkubasi, di mana pemahaman sedang diendapkan sebelum meledak menjadi insight yang lebih dalam.

Melalui orang-orang yang Allah hadirkan.

Ada yang hadir untuk menguatkan. Ada yang hadir untuk menguji. Ada yang hadir untuk mengajarkan batas. Ada yang hadir untuk membuat kita lebih kenal diri sendiri.

Bahkan orang yang menyakiti kita pun — tanpa sadar — mengajarkan tentang batas, tentang harga diri, tentang maaf.

Tidak ada pertemuan yang kebetulan dalam kurikulum Allah.


Belajar, Bagi Seorang Hamba, Adalah Cara untuk Pulang

Kalau boleh jujur, makin ke sini aku merasa belajar itu bukan cuma soal bertambah pintar.

Belajar adalah proses diluruskan. Belajar adalah proses dibersihkan. Belajar adalah proses disadarkan. Belajar adalah proses dipulangkan.

Kadang kita belajar supaya paham dunia. Kadang kita belajar supaya paham diri sendiri. Kadang kita belajar supaya paham orang lain. Dan di fase tertentu, kita belajar supaya lebih paham cara Allah bekerja dalam hidup kita.

Jadi buatku, belajar sepanjang hayat itu bukan proyek intelektual semata. Ia juga proyek spiritual.

Kita belajar agar tidak gegabah. Belajar agar tidak sombong. Belajar agar tidak mudah menghakimi. Belajar agar lebih jernih membaca takdir. Belajar agar tahu kapan harus berjalan, kapan harus menunggu, kapan harus menerima.

Dan ini yang aku rasakan makin kuat, terutama di fase S3 ini.

Sering kali aku kira belajar itu artinya duduk di depan laptop, baca paper, nulis disertasi. Tapi ternyata belajar yang paling berat — dan paling bermakna — justru terjadi di luar itu semua. Di percakapan yang menyakitkan. Di keputusan yang tidak mudah. Di malam-malam yang panjang. Di momen-momen di mana aku harus jujur pada diri sendiri tentang siapa aku sebenarnya.

Itu semua adalah kurikulum. Dan gurunya adalah Allah.

Kalau ketiga perspektif ini kita satukan — riset modern, Al-Ghazali, dan tarbiyah Allah — maka lifelong learning bukan sekadar kompetensi abad 21. Ia adalah cara hidup seorang hamba yang sadar bahwa ia tidak pernah selesai dididik oleh Tuhannya.


Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Biar tidak berhenti di level wacana, izin berbagi apa yang aku coba lakukan yaa:

1. Jadikan refleksi sebagai kebiasaan, bukan kemewahan. 5–10 menit sebelum tidur, tanya diri sendiri: "Hari ini aku belajar apa?" Bukan harus panjang. Bukan harus ditulis. Cukup jujur pada diri sendiri.

2. Periksa niat sebelum belajar. Belajar dengan niat yang benar mengubah setiap proses menjadi ibadah. Dan ini bisa dilakukan kapan saja, bahkan di tengah jalan.

3. Jangan lari dari ujian, tapi baca pesannya. Setiap kesulitan yang datang, coba tanya: "Ini sedang mengajarkan aku apa?" Kita tidak harus senang dengan kesulitan. Tapi jangan biarkan ia berlalu tanpa pelajaran.

4. Bangun ekosistem belajar yang sehat. Cari komunitas yang menumbuhkan, bukan yang mengerdilkan. Lingkungan itu nyata pengaruhnya.

5. Percayai kurikulum Allah. Hidup kita — dengan segala plot twist-nya — adalah kurikulum yang dirancang khusus untuk kita. Tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang kebetulan. Semuanya sedang mengajarkan sesuatu.


Untuk Kita yang Masih Terus Belajar

Di hari Kartini ini, aku ingin bilang sesuatu untuk perempuan-perempuan yang mungkin sedang membaca ini sambil kelelahan.

Yang sedang belajar sambil mengurus anak. Yang sedang menyelesaikan studi sambil mengelola rumah tangga. Yang sedang berjuang di dunia kerja sambil tetap hadir untuk keluarga. Yang sedang belajar dari luka, dari kegagalan, dari hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana.

Kamu sedang menjalani kurikulum yang sangat berat. Dan itu bukan tanda bahwa kamu lemah — itu tanda bahwa Allah percaya kamu mampu.

Kalau hari ini kamu sedang ada di fase bingung, lelah, merasa tertinggal… nggak apa-apa yaa.

Bisa jadi kamu bukan sedang gagal. Bisa jadi kamu sedang belajar.

Kalau hari ini ada hal yang belum sesuai harapan, belum tentu itu penolakan. Bisa jadi itu proses pendidikan.

Kalau hari ini terasa berat, belum tentu itu tanda Allah jauh. Bisa jadi justru Allah sedang dekat, sedang mengajarimu sesuatu yang tidak bisa diajarkan dengan kata-kata.

Kartini tidak pernah selesai belajar. Dia meninggal di usia 25 tahun, tapi warisannya masih kita rasakan lebih dari seabad kemudian. Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti bertanya, tidak pernah berhenti berharap.

Kita tidak perlu menunggu kondisi ideal untuk belajar. Kita tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk bertumbuh. Kita hanya perlu terus berjalan — sambil terus membuka hati untuk dididik.

Oleh pengalaman. Oleh orang-orang di sekitar kita. Dan terutama, oleh Allah — Guru terbesar yang tidak pernah berhenti mendidik hamba-Nya yang mau belajar.

Jadi yuk, tetap belajar. Dengan tenang. Dengan rendah hati. Dengan sabar. Dengan hati yang tetap terbuka.

Selamat Hari Kartini yaaa 🌸

Untuk semua perempuan yang masih bertumbuh. Masih belajar. Masih memperbaiki diri. Masih jatuh bangun. Masih menata hati. Masih menjaga nyala akal dan imannya.

Habis gelap, terbitlah terang. Habis bingung, terbitlah hikmah. Habis jatuh, terbitlah versi diri yang lebih kuat.

Semoga Allah cukupkan ilmu kita. Semoga Allah lembutkan hati kita. Semoga Allah jaga niat kita dalam belajar. Dan semoga Allah jadikan setiap proses bertumbuh ini sebagai jalan yang mendekatkan kita kepada-Nya 🤲

Tegaklah wahai perempuan, tersenyumlah senantiasa 😄


Yeni Dwi Rahayu 21 April 2026 ☕🌸

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Visi Pendidikan Anak: Ikhtiar Implementasi Madrasah Ula

The Quiet Parallel System: How Indonesian Parents Stopped Waiting for School to Be Enough

Bahagianya Seorang Hamba