Authoritative Parenting : Seniku Bertumbuh bersama (ayah, ibu dan anak-anak)
Holaaa, dengan yeni disinii 👋
Hari lumayan emosional, melepas anak lanang pertama kalinya pergi tanpa keluarga keluar negeri, kami sepakat mendukungnya join development program bersama anak-anak lain di negeri ini. Dia anak yang dulu masuk SD usia 5 tahun 11 bulan, dan mulai masuk sekolah formal usia 1 tahun 11 bulan (jenjang batita). Mungkin saat ini terlalu dini untuk puas, tapi sejauh ini kami sangat bersyukur atas apa yang dia lalui dan "dia" saat ini.
Ok, kali ini bahas topik parenting yaaa, Saya memberanikan nulis ini, sekedar membagi pengalaman melawan mayoritas opini publik yang menganggap "lebih baik telat daripada kecepetan". Seminggu lalu conducted a deep consultation dengan pakar psikolog dan praktisi perkembangan anak, kebetulan si adek bungsu takdirnya lahir di bulan Agustus sama seperti kakaknya, dan so far parenting kami divalidasi positif oleh beliau. Selain itu nature sebagai peneliti, saya juga juga membaca literatur, hasil penelitian terkait perkembangan anak dan parenting. So selamat membaca tulisan agak panjang ini, semoga bermanfaat.
Parenting itu sebuah perjalanan yang sangat personal dan unik. Parenting sering disederhanakan sebagai "cara mengasuh anak", tapi sebenernya definisinya jauh lebih dalam dan kompleks dari itu.
Parenting adalah sebuah proses yang melibatkan serangkaian aktivitas dan interaksi yang berkelanjutan antara orangtua dan anak, yang bertujuan mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, dan intelektual anak dari masa bayi hingga dewasa (Jay Belsky 1984, Eisenberg, N., Damon, W., & Lerner, R. M. (Eds.). (2006), Fadlillah, M., & Pangastuti, R. (2022)).
Jadi sejatinya yang berkembang dalam proses ini subjeknya bukan hanya anak, tapi juga orang tua. Prosesnya dua arah - bukan cuma orangtua yang ngajarin anak, tapi orangtua juga belajar dan berkembang bareng sama anak.
Setiap anak terlahir dengan keistimewaannya sendiri, begitu pula dengan keluarga dan lingkungan yang membentuknya. Tidak ada satu formula yang bisa diterapkan secara mentah-mentah untuk semua anak. Teori-teori parenting yang beredar atau nasihat dari para influencer di media sosial mungkin terdengar meyakinkan, tetapi tanpa kurasi yang tepat, bisa jadi tidak relevan dengan kondisi anak kita.
Setiap keluarga memiliki dinamika, nilai, dan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, stimulus dan pengalaman yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan konteks mereka, bukan sekadar mengikuti tren atau apa yang dianggap "benar" oleh orang banyak. Memang, sangat manusiawi jika kita merasa insecure, apalagi di era dimana siapapun bisa menjadi public speaker parenting, meskipun informasi yang dibagikan seringkali tanpa kurasi, literasi terbatas dan hanya berdasarkan pengalaman pribadi. Penjelasan ini juga sering luput dijelaskan oleh public speaker yang menyebut dirinya "ahli parenting".
Sering menjadi perdebatan, kapan waktu yang tepat untuk memulai sekolah. Banyak orang cuma membahas pembatasan berdasarkan usia kronologis, Padahal, ini terlalu ini terlalu simpel. Usia kronologis hanyalah satu aspek dari banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Ada usia mental, emosional, dan bahkan sosial yang juga berperan besar dalam menentukan kesiapan seorang anak.
Di sinilah peran kita sebagai orangtua buat bener-bener memahami anak kita. Jangan asal ikut-ikutan trend atau terpengaruh sama tekanan dari lingkungan. Kita perlu observasi anak kita secara menyeluruh, lihat tanda-tanda kesiapannya dari berbagai aspek. Yang penting bukan cuma ngikutin teori atau saran influencer, tapi parents harus ngerti konteks spesifik keluarga dan kebutuhan unik dari anak.
Parenting itu lebih mirip seni daripada rumus matematika. Jadi suangat penting untuk peka sama keunikan anak. Layaknya seniman yang memahami medianya, orangtua perlu peka terhadap ritme dan kebutuhan anaknya
Dalam hal pendidikan formal misalnya, timing yang tepat menjadi kunci. Memulai terlalu dini memang berisiko membuat anak kelelahan dan stres, namun terlambat pun bisa kontraproduktif - membuat mereka bosan dan kehilangan momentum emas untuk belajar. Kuncinya adalah memberikan stimulus yang tepat sesuai tahap perkembangan anak, termasuk kapan waktu ideal untuk memulai pendidikan formal.
Daripada menelan mentah-mentah gaya parenting orang lain, ada baiknya kita memahami konteks implementasi parenting. Setiap keluarga punya dinamika dan kebutuhan yang berbeda, sehingga tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua. Aniway, secara umum, ini adalah prinsip dan praktik parenting yang saya lakukan:
1. Parents Wajib Mengasah Insting Sebagai Orang Tua
Insting parenting itu kayak otot yang perlu dilatih terus-menerus. Nggak bisa cuma modal baca teori aja, tapi perlu dikembangkan melalui observasi, refleksi sehari-hari, dan belajar dari pengalaman. Jangan lelah belajar, pahami betul tahapan dan kebutuhan perkembangan anak, dan berikan stimulus yang tepat.
2. Anak dan Orang Tua adalah Manusia yang Punya Akal dan Bertumbuh
Menurut saya anak dan orang tua adalah individu yang sama-sama memiliki akal, emosi, dan kebutuhan masing-masing. Keduanya adalah manusia yang terus bertumbuh dan belajar. Orang tua, karena lahir lebih dulu, memiliki tanggung jawab untuk menjadi supervisor dan guidance bagi anak. Namun, penting juga untuk menghargai hak anak dalam membuat keputusannya sendiri.
Saya menerapkan prinsip ini sedini mungkin. Misalnya, sejak anak saya masih kecil, saya melibatkannya dalam pengambilan keputusan sederhana, seperti memilih baju yang akan dipakai atau makanan yang ingin dimakan. Ini adalah upaya kami untuk mengenali diri sendiri—baik sebagai orang tua maupun anak. Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya, sementara saya sebagai orang tua belajar untuk mempercayai, menghargai prosesnya dan mengenali dirinya melalui pilihan-pilihannya.
Kenapa ini penting?
- Anak merasa dihargai dan dipercaya, hal ini membantu membangun kepercayaan dirinya. Anak juga respect kepada orang tua karena memang orang tua menjalankan perannya dengan baik dan manusiawi.
- Orang tua belajar untuk tidak selalu mengontrol, tapi memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.
- Proses ini juga membantu anak memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, yang merupakan pelajaran penting dalam kehidupan.
Setelah saya baca-baca apa yang saya lakukan sejalan dengan teori Authoritative Parenting (Diana Baumrind, 1966), di mana orang tua memberikan bimbingan dan struktur, tetapi juga menghargai otonomi anak. Ini berbeda dengan gaya parenting otoriter yang cenderung kaku atau permisif yang terlalu longgar.
3. Menumbuhkembangkan Kesadaran atas Peran Masing-masing
Dalam keluarga, setiap anggota punya peran dan tanggung jawabnya sendiri. Kami adalah tim untuk tujuan tertentu. Ayah, ibu, anak saling menyadari dan bertanggung jawab di perannya masing-masing.
Dalam perjalanannya, peran-peran ini bukanlah sesuatu yang statis, melainkan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perubahan dalam keluarga. Anak yang awalnya sangat bergantung pada orang tua akan secara bertahap mengambil tanggung jawab yang lebih besar sesuai dengan usianya. Orang tua pun perlu menyesuaikan peran mereka, dari yang awalnya sangat direktif menjadi lebih sebagai mentor dan pendamping seiring anak bertumbuh dewasa. Kesadaran akan peran ini harus dibangun di atas fondasi kasih sayang dan saling pengertian. Setiap anggota keluarga perlu merasa aman dan dihargai dalam menjalankan perannya, dengan pemahaman bahwa kegagalan atau kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi tim yang efektif dalam mencapai tujuannya, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh dan berkembang.
4. Membangun Kolaborasi dengan Pihak Eksternal dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Meskipun orang tua memiliki peran utama, perkembangan anak sedikit banyak dipengaruhi oleh ekosistem yang lebih luas di sekitarnya. Orang tua punya peran penting memastikan ekosistem yang aman itu. termasuk memilih sekolah anak, jika beruntung guru bisa menjadi mitra strategis dalam tumbuh kembang anak dan sesekali mendapatkan insight personal dari pakar juga bisa memberikan kekuatan dan guidance untuk langkah-langkah pengasuhan kita ke depan. Kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal ini harus dibangun dengan cermat dan penuh pertimbangan, memastikan bahwa setiap interaksi dan pengalaman yang didapat anak memberikan dampak positif bagi perkembangannya.
Well, perjalanan parenting memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita merasa ragu, lelah, atau takut membuat kesalahan. Namun justru di sinilah esensi dari parenting - sebuah proses pembelajaran yang tak pernah berhenti, baik bagi anak maupun orang tua. Ketika kita memilih untuk melawan arus dan mengambil keputusan yang berbeda dari mayoritas, yang terpenting adalah memastikan bahwa keputusan tersebut didasari oleh pemahaman mendalam tentang anak kita, didukung oleh riset dan konsultasi dengan ahli.
Perlu diingat bahwa tidak ada yang namanya parenting yang sempurna. Yang ada adalah parenting yang tepat untuk anak dan keluarga kita.
Tidak ada parenting yang sempurna, yang ada adalah parenting yang tepat untuk keluarga kita.
Yukk lah kita jalani peran sebagai orang tua dengan happy, penuh syukur dan kebijaksanaan, karena setiap anak adalah anugerah dengan potensi uniknya masing-masing. Indonesia emas dimulai dari keluarga kita , syemangatttt

Komentar
Posting Komentar