Hai 2026, Terima Kasih 2025 🌅


Holaaa, Yeni disiniii 👋


Hai. Aku comeback. Lebih kuat, lebih waras, dan (insyaAllah) lebih bijak 😄


Kalau ada yang tanya, “2025 kemana aja kok jarang nulis?” (ge er amat yaa 🤭)  

Jawaban singkatnya: lagi sekolah. Hehehe.


Sekolahnya bukan di kampus, tapi di “kelas kehidupan”—yang silabus-nya Allah sendiri yang nyusun. Kadang ujian dadakan, kadang praktik langsung, kadang remedial… tapi alhamdulillah, pelan-pelan naik level 😅


Di awal 2025 aku memang berdoa semoga level-up.  

Allah kabulkan. Tapi rupanya jalurnya bukan yang “wah keren”, melainkan yang “wah… ternyata begini rasanya dibentuk.” 🤲  

Sungguh aku tak menduga… definisi level up-ku sama Allah rupanya agak berbeda. Tapi kulo sepakat ya Allah, nderek level up yang seperti ini.  

Allah kuatkan akar pondasiku. Dan jujur, aku nggak berani menebak apa yang Allah siapkan berikutnya—yang aku bisa lakukan cuma siapin hati, dan terus belajar.


Di tengah proses itu, aku jadi makin paham: kita nggak selalu bisa milih takdir apa yang datang, tapi kita bisa milih "cara berjalan" menjalaninya. Dan di titik-titik paling sesak sekalipun, selalu ada ruang untuk kembali—untuk ditenangin, untuk dilurusin, untuk dikuatin.


Ada masa ketika menulis terasa seperti berdiri di depan cermin: terlalu jujur, terlalu dekat, terlalu ramai di kepala. Jadi aku memilih menepi sebentar yaaa.


Bukan berhenti. Bukan menghilang. Cuma ngambil jeda—biar yang di dalam beres dulu.


Dan sekarang, 2026… aku pengen mulai lagi. Pelan-pelan, tapi konsisten. Tandain yaa.  😁

Buat yang paham ada perubahan di diriku, dan tetap menerima perubahanku… makaciii yaaaa.


Aku juga berterima kasih kepada siapa pun yang jadi perantara sumber bahagiaku. Semoga Allah bahagiakan kamu juga, berlipat-lipat 🤲


---


## Apa yang bisa dipetik dari 2025?

Satu hal yang paling aku pegang: selama kita dalam dekapan Allah, selama kita yakin pada perlindungan Allah… apa sih yang perlu kita takuti?

Masa depan? “Orang jahat”? Plot twist hidup?


Semua itu akan tetap ada, dan akan tetap berlalu… tapi rasa takutnya nggak perlu jadi penguasa. Karena yang paling penting: kita nggak jalan sendirian.


Yang bisa kita kontrol bukan takdirnya, tapi cara kita tetap berada dalam dekapan Allah di tengah takdir itu.  

InsyaAllah ini bakal jadi bahan tulisanku next time—karena ternyata… banyak banget yang aku ingin share dari pelajaran ini.


---


2026: Aku Mau Nulis Apa?

Biar jelas (dan biar aku nggak ngalor-ngidul kebangetan 😅), dan biar ada “ikatan” untuk konsisten, insyaAllah 2026 aku bakal nulis tema-tema ini:


1. Spiritual + real life (yang ringan tapi ngena)  

2. Parenting (tetap pakai “seni”, plus insight dari literatur & pengalaman)  

3. Riset dan perdosenan (biar kita sama-sama waras di jalan akademik)  

4. AI/LLM (secukupnya—karena secanggih-canggihnya teknologi, manusianya tetap pemain utama)  

5. Keresahan fenomena sosial (yang penting ada manfaat, bukan cuma ngomel 😄)


---


Buat kamu yang juga lagi di fase “belajar”

Kalau kamu lagi capek, boleh istirahat.

Kalau kamu lagi bingung, boleh pause.  

Yang penting jangan salah paham: pause itu bukan stop.  

Kadang itu justru cara Allah menyelamatkan kita… dari diri kita sendiri.


Hai 2026, terima kasih 2025.  

Bismillah… kita lanjut yaa 🤲



Yeni Dwi Rahayu  

Comeback Edition — Januari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Visi Pendidikan Anak: Ikhtiar Implementasi Madrasah Ula

The Quiet Parallel System: How Indonesian Parents Stopped Waiting for School to Be Enough

Bahagianya Seorang Hamba