LLM: Secanggih-canggihnya Teknologi, Manusia Tetap Pemain Utamanya
Holaa, Yeni disini! 👋
Tau nggak siiiiii, muncul AI model baru asal China namanya deepseek dengan logo lumba-lumba yang membuat America merasa terancam. Simak beritanya disini. Pas dicoba, iih keren betul .... Kualitasnya hampir setara dengan monica based on Claude-Sonnet yang berbayar, dan si deepseek ini gratis. kemarin awal coba lampiran filenya di batasi hanya 4 dan conversation nya limited jadi kalau sudah mencapai batas hanya perlu bikin percakapan baru tapi tetep gratis. Eh dan sekarang lampirannya udah unlock lebih dari 4. tapi saat ini buat saya masih unggul monica karena dia udah bisa elaborasi dan analisis konten di lampiran termasuk menerjemahkan arah bagan. Makin kerenn ajaaa, rugi banget hari gini kita nggak ikutan level up. btw tentang fenomena ini udah aku tulis sebelumnya supaya tetap bisa jadi manusia di era AI ya, kalau belum baca, bisa baca disini.
Oke, kali ini khusus mau bahas model AI yang memproduksi text, tulisan yang saat ini umum disebut Chat GPT. Chat GPT adalah model AI yang pertama boom dan menandai perkembangan baru era AI, namun saat ini tidak hanya chat gpt, ada banyak lainnya deepseek yang terannyar muncul. jadi nggak enak lagi ah sebut chat gpt terus, lalu apa yang lebih tepat ? sebut teknologinya aja kali yaa, yakni LLM.
Apa itu LLM ? LLM adalah Large Language Model adalah Model AI yang dilatih dengan data teks dalam jumlah sangat besar. LLM menghasilkan text berdasarkan input (prompt) yang diberikan, LLM juga dibekali dengan kemampuan memahami konteks. sehingga kualitas teks yang di hasilkan LLM tergantung dari bagaimana dia di latih dan pemahaman konteksnya. Seperti yang sudah kita ketahui bersama pioner LLM adalah Chat GPT dari perusahaan teknologi namanya Open AI, selain itu ada BERT/Gemini (Google), LLaMA (Meta), Claude (Anthropic).
Perkembangan LLM yang semakin keren, tentu tidak luput dari manusia yang mengeksplorasi dengan kreatif sehingga menghasilkan bentuk yang dapat dirasakan manfaatnya. Namun seperti pada umumnya sebuah teknologi atau alat bagai dua sisi mata uang, ada juga dampak buruknya yang tergantung pada manusia yang menggunakannya.
Jadi kembali kepada jati diri manusianya, manusia yang baik akan menggunakan alat untuk kebaikan bukan keburukan. Namun kreatifitas manusia tetap tanpa batas, seperti menempatkan LLM sebagai co-author dalam Artikel. Namun beberapa jurnal menolak tegas hal ini, di kutip dari penelitian Joo-Young Park, 2023 Tiga penerbit jurnal terkemuka telah mengeluarkan kebijakan tegas terkait penggunaan AI dalam publikasi ilmiah. AAAS (American Association for the Advancement of Science), penerbit jurnal Science, pada 26 Januari 2023 menyatakan dengan tegas bahwa AI tidak diizinkan tercantum sebagai penulis dalam paper yang dipublikasikan, dan penggunaan teks yang dihasilkan AI tanpa sitasi yang tepat dapat dikategorikan sebagai plagiarisme. Senada dengan AAAS, Springer Nature selaku penerbit Nature, pada 24 Januari 2023 juga menegaskan bahwa ChatGPT tidak memenuhi standar kepengarangan dan mewajibkan para penulis yang menggunakan LLM (Large Language Models) dalam proses pengembangan paper untuk mendokumentasikan penggunaannya, baik dalam bagian metode maupun acknowledgements. Sementara itu, Elsevier yang menerbitkan jurnal Cell dan Lancet, memperbarui kebijakan kepengarangan mereka pada Maret 2023 dengan menyatakan bahwa meskipun alat AI dapat membantu meningkatkan keterbacaan dan aspek bahasa dalam artikel penelitian, AI tidak dapat menggantikan tugas-tugas kunci yang menjadi tanggung jawab penulis seperti interpretasi data atau penarikan kesimpulan ilmiah, serta secara eksplisit menegaskan bahwa AI dan alat berbantuan AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis dalam karya yang dipublikasikan.
Kenapa hal ini terjadi ? Menurut saya ini karena manusia terlalu larut dalam penggunaan LLM ini. karena hasilnya yang memang signifikan dan dari pengamatan saya LLM akan menyajikan text satu tingkat diatas ekspektasi pembuat promptnya (manusianya). Disclaimer jumlah tingkat ini juga tergantung kualitas LLMnya juga ya dan kualitas text yang dihasilkan tergantung juga si pembuat promptnya kalau yang bikin prompt masih level pemula dalam menulis, LLM akan kasih hasil yang kira-kira setara dengan penulis intermediate. Kalau yang bikin prompt udah level intermediate, hasil LLM bisa nyaingin level advanced writer. Jadi, kita tetep harus jadi manusia di era AI ini. Jangan sampe kita kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas hanya karena tergantung sama AI. Kalau penasaran gimana caranya, bisa baca tulisan saya disini.
Meskipun penggunaan LLM ini tetap menjadi pilihan, penggunaan LLM udah banyak dilakukan secara umum, dan apa perlu deklarasi penggunaan LLM ini ?
Secara pribadi saya saya kurang setuju untuk deklarasi ini, tapi kalau memang sudah aturan ya nggak apa-apa dikerjain aja. Kan sejatinya LLM hanya alat, kualitas sebuah karya kembali lagi tergantung manusianya. Sama kayak fungsi mixer pas bikin kue, nggak ada yang salah pake alat buat bantu kerja kita. Malah, yang nggak pake alat bisa dibilang kurang efisien atau ketinggalan zaman. Tapi, di sini ada pertanyaan menarik: kalau kita pake mixer buat bikin kue, apa kita perlu kasih tahu orang kalau kue itu pake mixer? 🤔 LLM udah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sama kayak pake Google Translate buat nerjemahin teks—nggak perlu bilang, "Ini pake Google Translate, lho!" Di beberapa bidang, kayak konten kreatif atau tulisan informal, nggak ada aturan khusus buat deklarasi penggunaan LLM. Jadi, terserah kita aja mau ngasih tahu atau nggak. yang penting itu hasilnya, bukan prosesnya. Misalnya, kalau kue yang kita bikin enak, orang nggak peduli itu pake mixer atau tangan. Kalau dia bisa menghasilkan kue yang enak dengan standar sistem jaminan kualitas pembuatan kue yang diakui, why not ?
Sekali lagi, LLM itu cuma alat, tetap pada manusianyalah kuncinya. Mari tetap jadi manusia yang bijak di era AI ini - memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaan kita.
.png)
Komentar
Posting Komentar