Pendidikan Era Personalisasi: Niat baik, Pemahaman Ekosistem secara Menyeluruh vs Roadmap Pendidikan

Holaa, Yeni disini! 👋  .... 

Kali ini sedikit ngomel yaa, diawali dari keresahan atas fenomena beberapa kebijakan pemerintah yang cukup kontroversial, terutama di bidang pendidikan. Sebut saja Merdeka Belajar, Permendikbudristek No. 44 dan 500 tahun 2024, peniadaan UN di era Nadiem Makarim, dan kini di era menteri yang baru UN akan diadakan lagi. Hmmm... Bikin bingung, kan?

Layanan Digital Aja "Paham", Masa Kebijakan Pemerintah Enggak ? ðŸ¤”


Saat ini kita berada pada era Industri 4.0 sejak awal abad ke-21 (2001) yang ditandai dengan perkembangan teknologi seperti internet of things (IoT), cloud computing, big data, dan kecerdasan buatan (AI). Tidak lama tahun 2016 jepang mulai memperkenalkan konsep Society 5.0. Lebih maju dengan dasar industri 4.0, Society 5.0 lebih manusiawi dengan menekankan pada kolaborasi antara manusia dan teknologi untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Di era Industri 4.0 dan Society 5.0 ini, kita dimanjakan dengan teknologi yang serba canggih dan personal. Layanan digital seperti Netflix dan Spotify bahkan seakan-akan "memahami" kita. Netflix, dengan cerdik, merekomendasikan film dan serial sesuai selera berdasarkan riwayat tontonan kita, bahkan menampilkan thumbnail yang berbeda-beda untuk menarik perhatian kita. Spotify dengan lihai meracik playlist personal berdasarkan lagu-lagu yang sering kita putar dan mengusulkan lagu baru yang kemungkinan besar kita sukai berdasarkan genre atau artis favorit. Begitu pula Instagram dan TikTok, berlomba-lomba menyajikan konten relevan sesuai preferensi yang kita tunjukkan melalui interaksi kita di platform mereka.

Kenyamanan ini bukan kebetulan. Di baliknya, ada algoritma canggih dan upaya sungguh-sungguh dari para penyedia layanan untuk memahami kebutuhan dan preferensi setiap pengguna.  Mereka mengumpulkan data, menganalisis perilaku pengguna, dan menggunakan informasi tersebut untuk memberikan pengalaman yang dipersonalisasi.  Inilah yang disebut dengan pendekatan "Customer-Centric" dan "Personalization",  di mana pengguna menjadi fokus utama dan layanan dirancang untuk memenuhi kebutuhan individual.

Pendidikan Berkualitas = Ekosistem yang Saling Mendukung 💪

Jika layanan hiburan seperti Netflix dan Spotify saja begitu serius mengimplementasikan "Customer-Centric" dan "Personalization", bagaimana dengan kebijakan publik yang seharusnya berpihak pada rakyatnya?

Mungkin penyedia layanan digital memanjakan kita dengan algoritma yang 'memahami' kita karena mereka dapat "melihat" "tangible profit" atau keuntungan usaha.  Mereka dapat mendefinisikan dengan baik siapa target pasar mereka, apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara memenuhinya untuk mendapatkan keuntungan. Namun,  dalam konteks pendidikan,  "keuntungan" yang ingin dicapai bukanlah materi,  melainkan terwujudnya ekosistem pendidikan yang berkualitas. 

apa itu Ekosistem pendidikan yang berkualitas ?  sebuah sistem pendidikan yang terintegrasi dimana seluruh komponen pendidikan saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Sistem ini mencakup lima elemen utama: peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat yang berkolaborasi secara aktif (Silvia, Nikolaeva. (2024)Koroleva, D., Khavenson, T., & Tomasova, D. (2023) )

Di sinilah letak pentingnya Kementerian Pendidikan untuk mengadopsi pendekatan "Customer-Centric" dengan menjadikan peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat sebagai fokus utama.

Bayangkan jika Kementerian Pendidikan memiliki sistem data yang canggih seperti Netflix.  Mereka bisa 'melihat' bakat, minat, dan bahkan gaya belajar setiap siswa melalui analisis data nilai, partisipasi di kelas,  keterlibatan dalam ekstrakurikuler, dan sebagainya. Data ini kemudian digunakan untuk merekomendasikan jalur pendidikan yang tepat, menyediakan materi pembelajaran yang sesuai,  dan memberikan pendampingan individual berdasarkan kebutuhan siswa.  Tidak ada lagi UN yang menghukum siswa  dengan  latar belakang dan akses fasilitas yang berbeda, Namun kemampuan siswa dapat direkognisi dengan baik juga oleh stakeholder.

Lalu apakah Kementerian Pendidikan sudah benar mendefinisikan parameter objeknya sebaik industri kreatif saat menyusun kebijakan ?  

Bagaimana dengan kebijakan publik yang seharusnya berpihak pada rakyatnya, baik dosen, guru, siswa dan masyarakat?  

Mungkinkah penyusunan kebijakan mengadopsi pendekatan yang sama? 

Menjawab Tantangan Kebijakan Pendidikan dengan Roadmap yang Holistik ðŸ’ªðŸ“šðŸ—º️💡🇮🇩


Meskipun objek dan kompleksitas kementrian pendidikan jauh lebih rumit, dapatkah penyusun kebijakan melibatkan Pemahaman Mendalam tentang Objek yang terdampak terhadap kebijakan tersebut, bahwa objek tersebut tidak terdiri dari satu kategori baik latar belakang ataupun dukungan fasiltitasnya. tidak adil jika dosen ataupun siswa diukur dengan alat ukur yang sama.

Penting bagi Kementerian Pendidikan untuk memiliki data yang rinci tentang peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat, seperti bakat, minat,  latar belakang sosio-ekonomi, dan akses terhadap fasilitas pendidikan. Data ini akan membantu Kementerian Pendidikan untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan yang adil dan merata, sesuai dengan sila kelima Pancasila, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Menerapkan "personalisasi pendidikan" memang bukan hal yang mudah.  Objek dan kompleksitas Kementerian Pendidikan jauh lebih rumit dibandingkan penyedia layanan hiburan.  Namun,  dengan "niat baik" dan upaya yang sungguh-sungguh,  kita bisa mewujudkan sistem pendidikan yang lebih adil dan  memenuhi kebutuhan setiap individu. memang berikutnya adalah isu privasi, tapi masyarakat saat ini sudah bisa sukarela memberikan datanya, yang penting pengelolaan data ini tepat dan bertanggung jawab.

Menerapkan personalisasi dalam pendidikan bukanlah utopia, melainkan kebutuhan di era disrupsi teknologi ini. Sudah saatnya kita bergerak melampaui paradigma lama dan merangkul pendekatan yang berpusat pada peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat. Susun Roadmap pendidikan yang lengkap, menyeluruh, dan berkelanjutan, dimana setiap individu dipahami dan diberdayakan untuk meraih potensi maksimalnya.

Jayalah Indonesiaku menuju Indonesia Emas 2045, Wujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Visi Pendidikan Anak: Ikhtiar Implementasi Madrasah Ula

The Quiet Parallel System: How Indonesian Parents Stopped Waiting for School to Be Enough

Bahagianya Seorang Hamba