Investasi Besar Sistem Informasi dan Teknologi Informasi

Perkembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi yang sangat pesat pada masa ini membuat sebagian besar Perusahaan menambah nilai prosentase investasi di bidang ini dengan harapan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Namun tidak sedikit Perusahaan yang mengalami kegagalan dalam implementasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi.


Robert Solow (1987) mengatakan "Teknologi Informasi selalu muncul di mana-mana tetapi tidak muncul pada statistik produktivitas", Kalimat Solow ini kemudian dipopulerkan sebagai The Productivity Paradox oleh Brynjolfsson(1993) yang menyatakan bahwa tedapat kesenjangan nilai investasi TI dengan nilai produktifitas. Pada sisi lain Nicholas G. Carr (2003) pernah menggemparkan masyarakat TI dengan artikelnya yang di muat pada Harvard Business Review (HBR) dengan judul “IT doesn't matter”. Carr beralasan bahwa Teknologi Informasi sudah menjadi komoditas sama halnya listrik. Carr menuai kritik dari berbagai kalangan, namun teori Carr ini ada benarnya jika suatu saat nanti kebutuhan kita akan teknologi sama seperti kebutuhan kita akan listrik, dan itu pasti akan terjadi. Pada masa itu nanti pembelanjaan di bidang TI tidak akan diperhitungkan lagi karena sudah menjadi pengeluaran wajib seperti halnya listrik.


Berdasarkan penelusuran terdapat dua pengelompokan penyebab terjadinya paradoks produktivitas, yakni secara teknis dan non teknis. Dari sisi teknis kegagalan banyak disebabkan oleh teknologi yg berada di balik SI dan TI itu sendiri, seperti mahalnya biaya pada saat persiapan(preparation/integrasi), penerapan (eksekusi) ataupun pada saat pemeliharaannya, Sedangkan dari sisi non teknis berada pada bagian perilaku dan manajerial penggunaan SI da TI itu sendiri, kesiapan atau kemampuan SDM menerima dan menjalankan kehadiran Sistem Informasi dan Teknologi Informasi.



Sudut pandang dan cara mengevaluasi investasi Teknologi Informasi yang berbeda, membuat pendapat dari para ahli untuk memberikan solusi terhadap masalah paradox produktifitas juga berbeda-beda. Selain itu sulitnya mengukur hubungan antara investasi TI dengan kinerja organisasi membuat penelititan tentang paradox ini semakin beraneka ragam. Shane Greenstein menilai terdapat penyalahan Teknologi Informasi dalam produktifitas paradox yang disebabkan oleh vendor yang membuat isu di masyarakat dengan menjanjikan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin komputer, sehingga expektasi masyarakat yang terlalu tinggi terhadap Teknologi Informasi membuat pembenaran bahwa paradox prouduktifitas disebabkan oleh Teknologi Informasi. Sedangkan Joe Loughrey mengungkapkan bahwa kekurangan produktifitas paradox pada sisi lain malah menguntungkan namun dalam jangka waktu tertentu.

Teknologi Informasi bukanlah mesin yang dengan otomatis dapat memberikan keuntungan. TI merupakan alat yang dapat membantu mempercepat suatu proses. Oleh karena itu, pernyataan mengenai  paradox produktifitas harus berdasarkan penggalian data-data yang akurat dan lengkap untuk membuktikan kebenaran bahwa  TI menyebabkan kemunduran dalam bidang produktifitas dan apakah paradox produktiftas itu sendiri menjadi masalah bagi sebuah perusahaan.


ditulis untuk memenuhi tugas Manajemen Sumber Daya Teknologi Informasi


Magister Teknik Informatika, Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Visi Pendidikan Anak: Ikhtiar Implementasi Madrasah Ula

The Quiet Parallel System: How Indonesian Parents Stopped Waiting for School to Be Enough

Bahagianya Seorang Hamba